MENGEJAR CAHAYA

29 Jun 2009

Imam Syafi`i berdialog dengan gurunya Imam Waki bin Jarrah, lalu gurunya berkata, Ketahuilah bahwa ilmu itu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang-orang yang suka bermaksiat,

Kalau kita susah mengerjakan sesuatu, trus kita mendapatkan petunjuk dari teman lalu kita bisa mengerjakannya, itulah cahaya. Atau ketika kita sekolah soal matematika yang diberikan oleh guru sangat susah, lalu kita minta bantuan teman yang bisa, dengan serius kita memperhatikan dan dapat memecahkan soal matematika yang susah, itulah cahaya.

Allah akan memberikan cahayanya kepada yang dikehendakinya. Tidak membedakan suku, ras, agama, dan keturunan. Allah akan memberikan cahayanya kepada yang sungguh-sungguh mencari cahayanya. Allah akan memberikan sebagian cahayanya kepada orang yang suka membagikan cahayanya kembali kepada orang lain. Karena cahayanya yang dititipnya akan bermafaat bagi sesamanya.

Cahaya akan benderang digelapnya malam. Begitupun cahaya ilmu. Kita terlahir dari ketidaktahuan. Kebodohan. Ketidakberdayaan. Ketika kita kecil kita untuk membaca saja terbata-bata. Mengetahui satu hurup saja harus diulang berklai-kali. Setelah kita mendapat cahaya. Kita akan mengetahui mana hurup abjad berupa A, B atau lainnya. Semua pengetahuan yang kita dapatkan merupakan cahaya yang menyinari otak kita.

Seorang ahli yang dikatakan Master, telah meliputi cahaya dirinya dengan keahlian ilmunya. Ahli fisika, Ahli, astronomi, ahli matematika, ahli kimia, semua orang yang diliputi cahaya karena ilmunya. Cahaya yang diberikan oleh Sang Pemberi Cahaya.

Andai saja dunia tidak adanya Cahaya betapa gelapnya dunia. Andai saja manusia tidak diberikan cahaya keilmuan. Mungkin kita hanya hidup dijaman primitif. Purba. Tidak ada kemajuan. Tidak ada teknologi. Pesawat. Internet. Tidak ada peradaban. Cahaya juga yang memuliakan manusia dari ketidakahuan. Mengangkat manusia dari gelap keterang. Karena cahaya ilmu juga manusia dapat melintas peradaban masa lalu. Dan meramal masa depan.

Orang yang telah berjalan sesuai aturan-NYA, mereka telah mendapatlan cahaya. Dengan cahaya yang didapatkan ia berjalan dengan kepercayaan penuh menjalani hidup. Ia tidak gentar dan takut dengan apapun. Karena cahaya telah meliputi dirinya. Hatinya teguh. Istiqomah. Tenang.

Karenanya kita adalah para pencari cahaya. Dan hanya dengan cahaya-NYA kita berjalan atas bimbinganya. Apabila kita tidak mendapatkan setitik cahayapun alangkah ruginya hidup kita. Seperti berjalan digelapnya malam. Terkatung-katung. Tanpa arah. Tanpa tujuan. Jalan satu-satunya kita harus berhenti maksiat, agar mendapatkan cahayanya untuk bekal menjalani hidup yang sukses dunia dan akhirat.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post