POTENSI YANG TERBUANG

28 Jun 2009

Pada suatu hari di Amerika Serikat, tepatnya di New York diadakan festival otak sedunia. Pada festival tersebut dipamerkan dan dijual otak-otak manusia dari seluruh bangsa di dunia. Masing-masing negara mengirimkan satu buah otak untuk diwakilkan.

Dari sekian banyak otak yang dijual, ternyata hanya tiga negara yang memiliki otak termahal didunia, yaitu Amerika Serikat, Jepang dan Indonesia.

Ketika salah seorang pengunjung menanyakan mengapa otak Amerika mahal, sang penjual mengatakan, karena otak Amerika sudah menciptakan teknologi tinggi di bidang transportasi.

Pengunjuang lalu bertanya lagi,Bagaimana dengan otak Jepang?
Penjual kemudian menjawab bahwa otak Jepang sudah mampu menciptakan teknologi robot yang canggih,

Dan otak Indonesia? tanya si pengunjung.

Oh, kalau yang ini mahal karena masih orisinil dan jarang dipakai!

Sebuah anekdot yang diambil dari buku Prof. Dr. James Danandjaja dalam bukunya Humor Mahasiswa menggelitik hati saya, humor kadang bukan sekedar humor, ada pesan yang disampaikan, dalam humor tersebut kadang kita merasa malas menggunakan potensi kita, otak yang mendekam dibatok kepala kita. Padahal, bila memanfaatkan secara maksimal akan lahir orang-orang cerdas yang dapat mengubah peradaban.

Kita belum sadar akan potensi yang dimiliki, belum sadar akan titipan otak yang dititipkan kepada setiap manusia memiliki arti yang begitu mahal, manusia akan memiliki kemampuan luar biasa untuk meloncat, untuk naik di atas kemampuan yang diperkirakan. Apabila mau memaksimalkan potensi kita. Lihatlah bangsa Jepang yang hanya memiliki sumber daya alam yang terbatas tapi dengan kemampuan otak yang maksimal. Mengenali potensi yang optimal. Bangsa yang kecil. Mampu mengalahkan bangsa yang besar. Mampu mengalahkan bangsa yang memiliki kekayaan sumber daya dan kekayaan yang melimpah. Semua itu karena mereka secara maksimalkan memberdayakan segala potensi masyarakatnya.

Sementara kita hanya memanfaatkan sebagian kecil saja dari potensi kita. Betapa seringnya kita menyia-nyiakan potensi kita, kita lebih senang jalan-jalan, bergosip, santai, dibanding harus berpikir, berbuat, mengejar ketertinggal, lebih senang menikmati hasil kerja orang lain, apa yang salah dengan diri kita. Kesalahan kita bahwa kita tidak mau melakukan perubahan dalam diri kita. Sekarang berniat merubah, besok sudah berubah arah.

Masih ingat pesan Thomas Alva Edison,99% kerja keras, 1% bakat, mari kita sama-sama menggali potensi diri. Agar menjadi manusia mandiri. Dan menjadi bangsa yang memiliki harga diri. Merdeka!!!


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post