BELAJAR KAYA

27 Jun 2009

Teman tentu pernah melihat acara Televisi Uang Kaget, si peserta dikasih uang 10 juta, dan dalam waktu beberapa menit harus menghabiskan uang tersebut. Disampingnya seorang pengingat waktu yang selalu mengingatkan sisa waktu yang harus segera dipergunakan. Tentunya dengan tergesa-gesa dan membuat acara semakin seru dan si peserta tanpa peduli dan tanpa perlu menawar membeli barang apa saja yang ada dipikiranya, atau apa yang belum pernah dirasakannya.

Namanya juga uang kaget. Uang yang didapat bukan dari hasil kerja keras dahulu. Rejeki nomplok. Dan tak pernah terpikirkan sebelumnya. Karena sifatnya dadakan, seperti mendapatkan durian runtuh. Untuk menghabiskannya kadang seperti air, menguap dan habis. Pengalaman kecil, kita mungkin pernah menemukan uang, kita tidak tahu siapa pemiliknya, katakanlah seratus ribu, karena uang dari hasil nemu, uang itu kadang seketika habis, dan kadang juga untuk mentraktir teman-temen saat itu tentu habis.

Ini yang dinamakan belajar kaya. Orang tua saya bilang untuk menjadi kaya itu mudah. Punya uang banyak, jalan-jalan, belanja-belanja, uang sebanyak apapun akan cepat habis seketika. Karena itu belajar kaya itu gampang. Yang susah itu belajar miskin. Nah, kalau mau melihat orang yang belajar kaya, datang aja ke mall-mall, borong sana, borong sini, troli lima mungkin tidak cukup untuk menampung semua belanjaannya, kulkas paling besar dirumahnya, rumah bagus, mobil baru. Gaya hidup wah. Itu gaya hidup orang kaya baru.

Berbeda yang semula hidupnya miskin, sengsara, menderita, untuk memperoleh kekayaan diperjuangan dengan keras, keringat dan air mata. Mereka akan sangat berhati-hati dalam membelanjakan hartanya. Mereka sangat merasakan betapa susahnya mereka saat waktu dulu. Dan mereka akan lebih peduli kepada orang-orang miskin disekitarnya. Mereka yang mengerti bahwa dari sebagian hartanya ada hak orang lain yang harus disalurkan. Mereka sangat peduli dengan kegiatan kemanusian. Itu bagi mereka yang sifatnya bahwa kaya pun perlu belajar, belajar merasakan penderitaan orang lain, belajar empati kepada orang lain, belajar peduli terhadap orang lain, bukan kekayaan yang diperoleh dari hasil yang tidak halal, kekayaan yang diperoleh hanya untuk memperkaya diri.

Orang yang belajar kaya akan mengerti. Bahwa kekayaan itu sekedar amanah. Titipan. Bukan milik pribadi. Milik pribadi hanya pengakuan. Hakekatnya semua harta kekaayan milik Sang Maha Pemilik. Supaya kekayaan kita menjadi hakiki. Belajarlah kaya sebelum kaya itu terjadi. Hati-hati. Dan tetap peduli. Tetap memberi. Sehingga kekayaan menjadi berarti. Bagi diri. Dan bekal hingga diakhirat nanti.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post