KRITIK VS PUJIAN

9 Jun 2009

smiley_face_ball
Siapapun orangnya, mau anak kecil, besar, pejabat, pengusaha, wong cilik, atau rakyat jelata sekalipun, paling senang kalau di puji, tidak bisa dipungkiri, dan tidak bisa dibohongi, siapapun itu termasuk kita, kalau kita mendapat pujian, entah itu keluar dari hati yang tulus atau sekedar basa-basi kita akan senang mendapat pujian.

Seorang anak kecil akan senang bila kita memuji tugas sekolahnya, ia akan langsung semangat kembali beraktivitas, dan dengan penuh rasa bangga dan berbunga-bunga, seorang karyawan apabila dipuji bos akan loyal dalam pekerjaanya, akan cepat dalam proses kerjanya, tidak ada yang tidak senang dipuji, semua itu seperti kebutuhan biologis, sikap positip yang kita pancarkan kepada orang lain akan mendapat pantulan sikap positif pula.
kritik
Berbeda bila kita dikritik, kritik itu sangat menyakitkan, kritik itu sangat menghinakan, menjatuhkan harga diri, martabab, dan wibawa kita. Kita akan merasa jengkel kalau anak kita mengkritik perbuatan kita, kita dengan tangan besi kita akan menghardik anak kita dengan kasar arau mengusir anak kita yang mungkin mengkritik datang dari hati yang tulus, dan mungkin bila dikaji ulang kritikan tersebut ada benarnya.

Hanya yang membedakan kritikan dan pujian kita. Rasa ego kita. Rasa ego yang terlalu tinggi memandang diri kita. Sombong. Sehingga kritikan yang masuk membuat kita terusik. Jengah. Dan untuk menutupi kelemahan kita berusaha membela diri. Menghindari diri. Menutupi diri. Itu dilakukan untuk melakukan pembenaran terhadap diri kita, tak ada orang lain yang tahu diri kita tentang diri kita. Itu persepsi kita.

Dan persepsi itu, menutup kesadaran kita, mengabaikan kelemahan kita, menisbikan ketidakberdayaan kita, kita terlalu sempurna memandang diri kita, kita terlalu enggan menerima kritikan dari yang lain, padahal orang besar bertumbuh karena adanya kritikan, tapi mereka menerimanya dengan tabah, berjalan terus sambil melakukan instropeksi diri, bila benar kritikan itu mereka akan memperbaiki, bila salah mereka akan tetap berjalan dalam jalan yang benar menurut ketentuan yang berlaku sesuai ketentuan ilahi.

marah
Bila marah cara kita menanggapi kritikan, perlu kiranya kita memeriksaan diri kita, sejauh mana kedewasaan kita, umur boleh bertambah, tapi kedewasaan tak pernah bertambah, mestinya kita malu, tuanya umur bukan membuat kita semakin bijak tapi membuat kita arogan, sebab orang yang dewasa, pikiranyan dewasa, tindakannya dewasa, proses pendewasaan itu membuat kita semakin bijaksana menanggapi setiap kritikan.

Sebab tak selamanya pujian datang dari hati yang tulus, pujian membahayakan bila kita terlena karenanya, kita merasa bangga dengan prestasi kita, lalu terlena, sementara diluar sana orang-orang berusaha terus menyaingi prestasi kita, berbeda dengan orang yang selalu menerima kritikan, mereka terus memperbaiki diri, kualitas, prestasi, ia hanya dapat membuktikan dengan segala tindakanya. Dan mematahkan semua kritikan yang datang padanya tidak pernah terbukti. Itu manusia sejati.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post